Nigeria mencatat pasien Ebola pertama dalam lebih dari satu dekade, dan otoritas kesehatan di seluruh Afrika kini berlomba menentukan bagaimana pasien tersebut terinfeksi. Wabah ini telah mencapai negara Afrika keempat, dengan kekhawatiran penyebaran lebih lanjut. Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan pasien Nigeria adalah istri kelahiran Uganda dari seorang diplomat Swiss yang berbasis di Abuja.
Menurut Kementerian Luar Negeri Swiss, pasien tersebut tidak melakukan perjalanan ke Republik Demokratik Kongo, tempat wabah pertama kali terdeteksi pada pertengahan Mei. Perempuan itu diduga tertular Ebola saat bepergian bersama suaminya di Uganda. Namun, keterangan Swiss ini bertentangan dengan versi Uganda yang sebelumnya menyebut perempuan tersebut melakukan perjalanan ke Kongo timur.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kemungkinan sumber infeksi pasien Ebola di Nigeria. Dr Wessam Mankoula dari Africa CDC mengatakan lembaganya tengah menyelidiki apakah pasien tersebut mungkin bersentuhan dengan seorang pasien Ebola di Kenya, karena keduanya berangkat dari Bandara Entebbe, Uganda, pada 3 Oktober.
Catherine Smallwood, manajer insiden Ebola WHO di Kongo, dalam taklimat PBB di Jenewa melalui tautan video pada Jumat, mengatakan staf WHO di Kongo tidak memiliki informasi yang menunjukkan pasien Nigeria pernah melakukan perjalanan ke negara itu. Ia menyebut kemungkinan keterkaitan dengan kasus Kenya masih terbuka, tetapi otoritas perlu membandingkan waktu kemunculan gejala pasien Nigeria.
Marion Koopmans, ahli virologi Belanda dan anggota komite darurat Ebola WHO, menilai teori keterkaitan tersebut sangat spekulatif tanpa bukti bahwa kedua pasien berbagi ruang yang sama dalam kondisi yang dapat menjelaskan penularan.
“Saya pikir itu sangat spekulatif kecuali ada bukti bahwa mereka berbagi ruang yang sama dengan cara yang dapat menjelaskan hal itu,” ujar Marion Koopmans.
Koopmans menegaskan bahwa keberadaan acak di lokasi yang sama, yakni sebuah bandara besar, bukanlah keterkaitan epidemiologis yang didukung oleh standar pengetahuan saat ini. Pernyataan itu muncul di tengah perbedaan keterangan antara Swiss dan Uganda mengenai riwayat perjalanan pasien, sementara penyelidikan lintas negara terus berjalan.
“Keberadaan secara acak di lokasi yang sama, sebuah bandara besar, bukanlah keterkaitan epidemiologis yang didukung oleh standar apa pun dari apa yang kita ketahui saat ini.” ujarnya.
Pemerintah Uganda melaporkan kasus Ebola pada Mei dan Juni sebelum WHO menyatakan negara itu bebas Ebola pada Agustus. Juru bicara pemerintah Uganda kepada Reuters pada Kamis menyatakan Uganda tidak memiliki kasus Ebola dan akan mengumumkan informasi jika ada. Wabah saat ini disebabkan virus Bundibugyo yang langka dan belum memiliki pengobatan atau vaksin yang disetujui.
Menteri Kesehatan Nigeria Muhammad Ali Pate mengatakan kasus di negaranya masih terkendali dan penelusuran kontak terus dilakukan. Ia menekankan upaya penanganan difokuskan agar kasus tidak menyebar ke komunitas. Wabah ini pertama diumumkan pada 15 Mei dan telah menginfeksi lebih dari 9.500 orang serta menewaskan hampir separuhnya, menjadikannya yang terbesar dan paling mematikan dalam sejarah Kongo.
“Kami berupaya menahannya agar tidak menyebar ke komunitas. Semoga tidak sampai ke tahap itu dan kami bekerja keras untuk memastikannya,” ujar Muhammad Ali Pate.
Ebola adalah penyakit virus yang sangat menular dan sering berakibat fatal, menyebar melalui cairan tubuh atau material yang terkontaminasi. Penyakit ini menyebabkan kerusakan organ, gangguan pembuluh darah, dan kadang perdarahan internal maupun eksternal yang parah. Wabah kali ini disebut sebagai yang paling luas secara geografis dalam sejarah, dan menjadi yang kedua terbesar di dunia setelah wabah Afrika Barat 2014-2016.
Melaku Yirga, wakil presiden untuk Afrika di Prosper Global (sebelumnya Mercy Corps), menilai konfirmasi Ebola di Kenya dan Nigeria memperkuat kebutuhan kerja sama erat antarnegara untuk mencegah penularan lebih lanjut. Ia menyoroti pentingnya kecepatan dan pertukaran informasi lintas batas.
“Yang paling penting sekarang adalah kecepatan, berbagi informasi lintas batas tanpa penundaan, dan memastikan tenaga kesehatan garis depan serta organisasi lokal memiliki sumber daya untuk merespons dengan cepat,” ujar Melaku Yirga.
Penyelidikan masih berlanjut untuk memastikan sumber infeksi pasien Nigeria, sementara otoritas kesehatan di Afrika berupaya mempercepat koordinasi lintas negara. Perbedaan keterangan mengenai riwayat perjalanan pasien menambah kompleksitas upaya penelusuran kontak dan penilaian risiko penyebaran lebih lanjut.



