Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya dipicu oleh isu peninjauan status pasar saham Indonesia oleh MSCI. Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal Agus Firmansyah menegaskan bahwa kondisi pasar keuangan global turut menjadi sumber tekanan sepanjang tahun, sehingga pelemahan IHSG tidak dapat dilepaskan dari faktor eksternal tersebut.

Menurut Agus, titik awal tekanan terjadi setelah MSCI mengumumkan pada 27 Januari 2026 terkait prospek peninjauan status pasar saham Indonesia. Pengumuman itu membuka kemungkinan status Indonesia diturunkan dari emerging market menjadi frontier market, dan sejak saat itu pasar saham domestik mulai menghadapi tekanan.

“Pada tanggal 27 Januari MSCI mengumumkan sesuatu terkait prospek review status pasar saham Indonesia yang kemungkinan akan di-downgrade dari emerging market menuju ke frontier, sehingga mulailah terjadi tekanan pada pasar saham kita di IHSG,” ujar Agus Firmansyah.

Selain isu MSCI, Agus menyoroti kebijakan suku bunga bank sentral dunia sebagai faktor yang membebani pasar. Ia menyebut The Fed mempertahankan suku bunga pada level yang cukup tinggi, bahkan menaikkan policy rate pada September, dan dampaknya dirasakan pada pasar saham, nilai tukar rupiah, serta perekonomian Indonesia.

“Central Bank dunia, The Fed, mereka mempertahankan suku bunga di level yang cukup tinggi atau istilahnya higher for longer. Bahkan di September kemarin, The Fed mengumumkan kenaikan policy rate-nya mereka, sebelumnya di level 3,5-3,75 terus naik jadi 3,75 sampai dengan 4 persen,” jelasnya.

Agus juga menyebut ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya menambah tekanan di pasar keuangan. Dinamika geopolitik yang menguat pada beberapa periode, termasuk Februari dan 7 April 2026, memengaruhi sentimen investor dan membebani IHSG. Karena itu, ia menegaskan bahwa MSCI bukan satu-satunya faktor yang menekan pasar saham domestik.

“Jadi MSCI bukan merupakan satu-satunya faktor yang menekan, memberikan tekanan kepada IHSG kita,” tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus dalam sebuah lokakarya pasar modal Indonesia di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (31/10). Uraiannya menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga hingga ketegangan geopolitik, di samping isu status pasar yang diangkat MSCI.