Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang ditengarai akibat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Pelemahan tersebut disebut dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, seiring meningkatnya tekanan jual di pasar saham dalam negeri.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai arus modal keluar dan kekhawatiran terhadap prospek pasar modal Indonesia turut memperbesar tekanan jual. Menurutnya, pergerakan indeks juga dipengaruhi kondisi likuiditas serta aksi ambil untung pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Dari sisi global, investor disebut semakin selektif dan berhati-hati dalam mengalokasikan dana, terutama ke pasar negara berkembang. Di sisi lain, investor domestik berpotensi mengambil sikap menunggu sambil mencermati stabilitas IHSG dan perkembangan sentimen pasar.

Elandry menambahkan bahwa respons investor tidak seragam, karena sebagian masih melihat peluang akumulasi pada saham dengan fundamental dan valuasi yang menarik. Sektor-sektor yang membebani indeks umumnya dipengaruhi saham sektor keuangan, khususnya perbankan berkapitalisasi besar, serta saham energi, infrastruktur, dan konglomerasi yang tertekan jual.

Menurut Elandry, menentukan sektor yang paling membebani indeks pada hari tertentu memerlukan penelusuran kontribusi masing-masing saham terhadap penurunan indeks, bukan sekadar melihat besaran koreksi harga dalam persentase. Berdasarkan data pasar, sebanyak 94 saham naik, 648 saham turun, dan 221 saham stagnan.

Untuk jangka pendek hingga menengah, Elandry memproyeksikan IHSG masih dapat bergerak volatil dan sensitif terhadap sentimen global, aliran dana asing, serta kebijakan regulator. Pemulihan yang lebih berkelanjutan disebut membutuhkan stabilisasi arus modal, perbaikan kepercayaan investor, dan dukungan fundamental emiten.

Elandry menyarankan investor menjaga disiplin dalam manajemen risiko, tidak terburu-buru melakukan average down, serta mencermati saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang lebih rasional.

Dari sisi lain, pengamat Hendra Wardana menilai persoalan utama bukan semata penurunan valuasi saham, melainkan krisis kepercayaan yang membuat investor menahan pembelian dan mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia. Ketidakpastian domestik mencakup evaluasi MSCI, transparansi kepemilikan saham, kualitas tata kelola, dan kredibilitas mekanisme perdagangan.

Secara global, ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Hendra memperkirakan IHSG masih akan volatil dengan kecenderungan defensif pada perdagangan Jumat (30/10).

Sumber

https://www.antaranews.com/berita/5819079/pengamat-koreksi-ihsg-imbas-investor-kurangi-eksposur-aset-berisiko

https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-anjlok-349-ke-5098-waspadai-jika-sentuh-support-di-level-4980-jumat-3010?source=home_terbaru

https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-rontok-39-asing-net-sell-hampir-rp-125-t-investor-ritel-perlu-beli-jual