Topan Arnab mendarat di pesisir tenggara India pada Rabu, memicu evakuasi hampir 100.000 orang di dua negara bagian. Otoritas memerintahkan ribuan warga di Andhra Pradesh dan Odisha untuk bergerak ke pedalaman atau berlindung di tempat aman sebelum badai tiba.
India Meteorological Department (IMD) mengklasifikasikan Arnab sebagai very severe cyclonic storm atau badai siklon sangat parah saat menghantam Andhra Pradesh. Kecepatan angin dilaporkan mencapai 125-135 kilometer per jam dengan hembusan hingga 150 kilometer per jam, sementara posisi badai berada di sepanjang pantai antara Bapatla dan Visakhapatnam.
“Badai siklon sangat parah Arnab terus berinteraksi dengan permukaan daratan,” India Meteorological Department (IMD).
Biro cuaca India memperingatkan potensi kehancuran total pada rumah-rumah beratap jerami, banjir lokal, tumbangnya tiang listrik dan komunikasi, serta kerusakan luas pada tanaman yang masih berdiri. Kementerian Penerbangan Sipil menyatakan penerbangan ke Andhra Pradesh dan Odisha diperkirakan termasuk yang paling terdampak.
Sebanyak 50.000 orang di Andhra Pradesh dan 48.000 orang di Odisha diminta pindah ke wilayah aman. Di Kota Pelabuhan Kakinada, yang berada dekat pusat badai, angin kencang mengguncang pepohonan dan hujan deras mengguyur saat gelombang besar menghantam pantai.
“Tiga tahun lalu ada siklon di sini, tetapi airnya tidak naik setinggi ini.” ujar Kotesh Kumar.
Kotesh Kumar, 35 tahun, mengatakan pemerintah telah memperingatkan warga untuk menimbun bahan makanan. Peringatan itu disampaikan menjelang kedatangan badai yang membawa angin kencang dan hujan lebat di kawasan pesisir.
“Rumah kami terendam banjir, dan kami harus tetap berada di dalam air,” ujar Rajeshwari.
Rajeshwari, 65 tahun, yang hanya menyebutkan satu nama, dibawa ke tempat penampungan pemerintah di dekat Kakinada. Ia menggambarkan kondisi yang dihadapi warga saat air merendam permukiman mereka.
“Jadi pemerintah menyediakan bus untuk kami, dan kami datang ke sini untuk berlindung,” ujarnya.
Dampak Arnab tidak hanya dirasakan di India. Sri Lanka menutup sekolah setelah Departemen Meteorologinya memperingatkan bahwa badai dapat memicu banjir bandang dan tanah longsor, sementara Nepal mengeluarkan peringatan serupa.
Otoritas bencana Nepal memperingatkan bahwa badai akan bergerak ke pedalaman menuju Himalaya, membawa hujan lebat serta risiko tinggi hujan salju lebat, badai salju, dan longsor. Wisatawan diminta menghindari perjalanan ke kawasan pegunungan tinggi, sedangkan mereka yang sudah berada di sana diminta bertahan di lokasi aman. Nepal masih dalam proses pemulihan setelah banjir besar pada 26 Agustus yang dipicu runtuhnya gunung es, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang dan meninggalkan lebih dari 5.000 orang hilang.
Siklon dikenal sebagai hurricane di Atlantik Utara dan typhoon di Pasifik, serta menjadi ancaman rutin di Teluk Benggala dan Samudra Hindia bagian utara. Musim badai tahun ini diperkuat oleh fenomena cuaca El Nino yang turut mendorong pemanasan tanpa preseden.



