Harga minyak mentah dunia melemah pada Kamis (29/10/2026), menghentikan penguatan yang terjadi pada sesi sebelumnya. Koreksi harga dipicu oleh meningkatnya harapan pasar terhadap kelanjutan perundingan perdamaian di Timur Tengah, yang meredakan kekhawatiran atas ancaman gangguan pasokan energi global.

Langkah diplomatik turut mewarnai perkembangan tersebut. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance berupaya membuka kembali jalur negosiasi perdamaian melalui surat resmi kepada Kepala Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei. Qatar, yang berperan sebagai mediator, juga menyampaikan draf baru kesepakatan damai kepada Iran untuk mengakhiri eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Meski pejabat senior Tehran sempat menolak draf tersebut, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negaranya masih membuka peluang bagi keberhasilan negosiasi diplomatik. Sinyal ini menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak pada perdagangan hari itu.

“Tekanan jual mendominasi di tengah ekspektasi bahwa perundingan perdamaian dapat kembali dilanjutkan,” ujar Yuki Takashima.

Ekonom Nomura Securities Yuki Takashima menilai penurunan harga minyak tetap terbatas. Menurutnya, ruang penurunan harga tertahan oleh kekhawatiran atas eskalasi serangan Houthi yang masih membayangi pasar energi.

Ketegangan di lapangan memang belum mereda. Koalisi pimpinan Arab Saudi mencegat rudal balistik Houthi yang diarahkan ke wilayah timur kerajaan pada Kamis dini hari. Pencegatan itu terjadi sehari setelah pasukan Houthi membombardir Bandara Aden di Yaman.

Selain konflik Houthi, pasar juga mencermati kecemasan terhadap potensi aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran setelah pemilihan sela pada 3 November 2026. Kombinasi harapan diplomasi dan risiko eskalasi membuat pergerakan harga minyak berada di antara dua tarikan yang berlawanan.