Peretasan yang menimpa Binance dengan nilai sekitar US$6,3 miliar dikaitkan dengan kelompok peretas TraderTraitor yang beroperasi dari Korea Utara. Atribusi itu disampaikan oleh Chainalysis dan peneliti on-chain ZachXBT, dan diperkuat oleh analisis TRM Labs yang menyatakan tingkat keyakinan tinggi bahwa kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan terhadap bursa kripto itu.
Penelusuran on-chain mengungkap bahwa dana curian dari Binance dan peretasan Bitget senilai US$388 juta terkumpul di alamat blockchain yang sama setelah melewati THORChain. Temuan ZachXBT tersebut menunjukkan adanya jalur perpindahan aset yang sama, meski penggunaan protokol yang sama tidak dengan sendirinya membuktikan identitas pelaku.
TRM Labs memperkirakan sekitar US$6,36 miliar berpindah dari dompet Binance melalui sepuluh blockchain. Menurut perhitungan Dickson Wu, beberapa hot wallet Binance kehilangan aset bernilai sekitar US$6,28 miliar di delapan blockchain, dengan sekitar US$6,07 miliar di antaranya berpindah dalam 55 menit pertama.
Ethereum mencatat nilai pencurian terbesar, yakni sekitar US$3,74 miliar. Bitcoin menyusul dengan 18.270,2 BTC senilai US$1,47 miliar, sementara di jaringan Tron penyerang mengambil aset USDT dan TRX senilai sekitar US$627,5 juta.
Binance menyatakan hasil penyelidikan awal mengarah pada kemungkinan kompromi laptop milik seorang engineer DevOps. Bursa itu menyebut belum menemukan bukti kebocoran private key dompet, meskipun penyelidikan teknis masih berlangsung, dan berjanji menanggung seluruh kerugian menggunakan dana perusahaan serta dana darurat Secure Asset Fund for Users (SAFU).
Upaya pembekuan aset melibatkan sejumlah penerbit stablecoin dan perusahaan kripto, termasuk Tether, Circle, Ripple, Paxos, World Liberty, dan Binance. Sekitar US$3 miliar aset curian telah dibekukan, tetapi miliaran dolar lainnya masih berpotensi dipindahkan pelaku.
Bitcoin dan Ethereum yang masih berada dalam kendali penyerang menjadi tantangan tersendiri karena tidak memiliki mekanisme pembekuan terpusat seperti sejumlah stablecoin. Empat penerbit stablecoin, yakni Paxos, Tether, Techteryx, dan Circle, telah membekukan hampir US$5 juta dalam bentuk stablecoin di dua alamat dompet yang terkait dengan kelompok peretas Lazarus.
ZachXBT mengkritik Circle karena memerlukan waktu lebih lama dibandingkan penerbit lainnya untuk membekukan token, yaitu total 4,5 bulan. Ia juga menemukan bahwa Lazarus Group mencuci lebih dari US$200 juta dalam kripto menjadi fiat selama periode tiga tahun, dengan dana yang dicuri dalam 25 eksploitasi terpisah di berbagai blockchain.
Dua dompet tersebut masih mengandung tambahan stablecoin DAI senilai US$720.000 dan sekitar US$313.000 dalam Ethereum yang belum dibekukan. TraderTraitor sebelumnya juga dikaitkan dengan peretasan Bybit senilai US$1,5 miliar pada Februari 2025, sehingga pola serangan terhadap bursa kripto besar kembali menjadi perhatian.
Perlu dicatat bahwa atribusi terhadap TraderTraitor masih berdasarkan analisis keamanan dan intelijen, bukan penetapan hukum. TRM Labs dan Chainalysis menyampaikan kesimpulan mereka melalui kajian forensik blockchain, sementara proses hukum dan penyelidikan resmi atas peristiwa ini belum dijelaskan dalam materi yang tersedia.
Sumber
https://coinedition.com/id/peretasan-binance-63-miliar-korea-utara/



