Demonstrasi berlangsung di banyak kota sejak 25 Agustus. Analisis Drone Emprit menunjukkan kemarahan publik memuncak setelah kematian pengemudi ojek daring Affan Kurniawan. Hingga Senin (1/9), diperkirakan delapan orang meninggal dan lebih dari 400 orang terluka. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di sejumlah lokasi.
Dampak situasi itu terasa pada aktivitas harian. Sekolah membatasi kegiatan belajar dan kantor menerapkan kerja dari rumah. Banyak toko, terutama di sekitar pusat demonstrasi seperti Kwitang dan Malioboro, tutup sementara.
Di tengah tekanan tersebut, stres akibat konflik dan ketidakstabilan nasional digambarkan sebagai respons alami manusia untuk bertahan hidup, yakni fight or flight. Dosen psikologi Universitas Indonesia Dicky Pelupessy mengatakan stres muncul karena orang mengaitkan situasi krisis dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Menurut Dicky, stres dapat menguat ketika ketidakstabilan nasional dianggap sebagai kondisi yang tidak biasa.
Pandangan berbeda disampaikan dosen ilmu kedokteran jiwa Universitas Airlangga, Damba Bestari. Ia mengatakan stres tidak selalu menandakan sesuatu yang buruk. Dalam kondisi proporsional, menurut Damba, stres dapat menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran masih hidup. Damba juga merupakan psikiater di Rumah Sakit Unair.
Membatasi Paparan Informasi
Dicky menyarankan agar masyarakat selektif dan membatasi konsumsi informasi. Ia menyarankan memilih sumber informasi dari media atau jurnal yang kredibel, serta menghindari media yang menyajikan berita bombastis atau clickbait. Damba menambahkan saran untuk membatasi waktu layar, idealnya kurang dari dua jam sehari, dan melakukan detoks dengan beristirahat sejenak ketika merasa kewalahan oleh berita.
Mengelola Pikiran dan Tindakan
Dicky mengatakan berdiskusi tentang informasi dengan orang yang dipercaya dapat membantu mengonfirmasi atau memvalidasi informasi tersebut. Ia juga mengingatkan pentingnya mengatur pikiran dengan menyarankan kepada diri sendiri bahwa harapan masih ada. Damba menyarankan praktik stoisisme dengan melepaskan hal-hal di luar kendali dan berfokus pada hal kecil yang dapat dijangkau. Menurut Damba, mengambil tindakan seperti membagikan informasi bermanfaat atau berdonasi dapat mengurangi stres karena menciptakan rasa memiliki kendali.
Menyeimbangkan Aktivitas dan Kebutuhan Dasar
Damba menyarankan menyeimbangkan satu berita yang tidak nyaman dengan dua atau tiga aktivitas yang menenangkan. Ia juga menyarankan memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, minum, dan tidur, serta kebutuhan spiritual. Artikel tersebut menyarankan menghubungi profesional seperti psikolog klinis atau psikiater jika stres tidak membaik.



